Jumat, 25 Mei 2018

RESENSI BUKU



UMAT ISLAM DALAM KANCAH PERPOLITIKAN NEGARA (ORBA)
JUDUL BUKU          :GERAKAN PELAJAR ISLAM DI BAWAH BAYANG-    BAYANG NEGARA
PENULIS                   :Djayadi Hanan
Penerbit                       :UII PRESS Yogyakarta
TEBAL                       :xvi + 288 Halaman
Di Negara Indonesia yang bercorak plural ini, tidak jarang kita jumpai kalangan etni-etnis masyarakat yang beragam. Mulai dari yang berlatar agama,ras,suku,hingga perbedaan pandangan dan ideologi.
Hal ini pula yang terjadi pada etnis masyarakat muslim.Umat muslim Indonesia,secara gamblang dapat kita bagi menjadi “golongan hijau” dan “golongan kuning”.Golongan  hijau  dapat kita artikan sebagai masyarakat muslim yang concern  terhadap ajaran-ajaran Islam.Sedangkan  golongan kuning adalah  golongan masyarakat yang beragama Islam ,tetapi phobia atau anti  terhadap ajaran Islam seperti sekuler,liberal,plural,kejawen,dsb.
Kita dapat melihat kilasan sejarah  republik ini.Mulai dari masa pemerintahan orde lama,orde baru,hingga masa reformasi sekarang.Banyak kebijakan pemerintah yang terkadang bertentangan dengan ajaran islam dan aspirasi umat Islam.Sebagai contoh adalah konsep yang ditawarkan rezim orde lama tentang  Nasakom,pemberlakuan UU No.85 tentang Keormasan pada rezim orde baru,serta perumusan RUU APP pada mas reformasi.
Khusus pada mas orde baru,Djayadi Hanan,penulis buku ini ,yang juga merupakan mantan ketua umum PB PII periode 1998-2000,menggambarkan secara gamblang tentang bagaimana reaksi umat Islam,khususnya para aktivis PII terhadap UU keormasan tersebut.Bertolak dari hal ini,yakni kasus penolakan Pelajar Islam Indonesia (PII) terhadap UU Nomor 8 Taun 1985 yang menyatakan setiap ormas harus berdasar Pancasila (Asas Tunggal),penulis buku ini melukiskan gejolak pelajar Islam atas tekanan rezim orde baru.Istimewanya,kasus tersebut dikaji dari sudut “orang dalam” sehingga peta dinamika hubungan Islam dan negara orde baru terekam kuat dari kaca mata politik gerakan pelajar Islam.Hal ini wajar.Karena di samping penulis adalah mantan Ketua Umum PB PII periode 1998-2000.Beliau juga adalah mantan ketua umum PW PII Sumatera Selatan yang juga menjadi satu Pengurus Wilayah PII yang tidak setuju akan sikap PB PII untuk mereformalisasi  gerakan PII.
Meskipun begitu,penulisnya juga dapat mengetengahkan kupasan objektif dari sudut orang luar.Hal ini dapat kita lihat dari sikap Menteri Agama RI Tarmizi Taher pada saat menerima kunjungan delegasi PB PII pada tanggal 11 Agustus 1995.Dalam  kesempatan  itu,di samping menyatakan bahwa Beliau akan membantu proses registrasi PII ke Departemen Dalam Negeri,beliau juga mengingatkan agar PII tidak lagi “merasa pintar sendiri” sehingga lebih pintar dari MUI.(Halaman 211 alinea ke-2)
Peringatan atau statement Menteri Agama RI Tarmizi Taher ini bisa kita artikan bahwa pemerintah dan juga komponen masyarakat yang menerima Pancasila sebagai Asas Tunggal mempunyai penilaian yang miring terhadap sikap PII yang menolak Pancasila sebagai Asas Tunggal.Kita mungkin dapat melihat pernyataan Faisal Ismail dalam bukunya “Pijar-Pijar Islam Pergumulan Kultur dan Struktur”.Dalam buku tersebut ia menyatakan “Dengan penolakan PII dan HMI-MPO terhadap asas tunggal maka dapat disimpulkan bahawa hanya sebagian kecil saja dari umat Islam Indonesia yang menolak Pancasila sebagai Asas Tunggal,sedangkan umat Islam yang lain setuju.
Pembahasan ini menarik,sebab menggambarkan kontradiksi sikap umat Islam dalam menyesuaikan diri terhadap UU Keormasan.Misalnya dalam tubuh Nahdatul Ulama.Ormas ini setelah berdiskusi dengan presiden dapat dengan mudah menerima Pancasila sebagai asas tunggal.Berbeda dengan Muhammadiyah, Muhammadiyah sendiri baru menerima asas tunggal setelah melalui  perdebatan yang cukup dinamis dalam Muktamar ke-41 (1985) di Surakarta. KH A.R Fachruddin, Ketua PP Muhammadiyah saat itu, mengibaratkan asas tunggal seperti "helm" bagi pengendara motor. Sedangkan PII,dengan tegas menyatakan menolak Pancasila sebagai Asas Tunggal.Konsekwensi logisnya,PII tidak diakui lagi oleh pemerintah dan harus bergerak secara informal atau  bawah tanah karena setiap kegiatan yang tersangkut paut dengan PII dilarang.
Hal  lain yang menarik dari buku “Gerakan Pelajar Islam  Di Bawah Bayang-Bayang Negara” ini  ialah bahwa buku ini tidak hanya mengupas mengenai gerakan informal PII saat menolak asas tunggal saja,tetapi meluas sampai tentang sejarah pergerakan PII dari masa ka masa.PII,sebagaimana menentang kebijakan pemerintah orde baru terhadap asas tunggal,ternyata juga turut berpartisipasi aktif dalam perjuangan mempertahankan republik ini dari berbagai ancaman baik dari dalam maupun dari luar.
Khusus  terhadap ancaman dari dalam.PII turut serta dalam  perjuangan melawan tirani pemerintahan rezim Soekarno yang  pada masa Demokrasi Terpimpin  banyak disusupi paham komunisme dan orang-orang PKI.PII,yang merupakan musuh bebuyutan PKI sejak tahun 1948  berupaya untuk membersihkan kabinet Dwikora dari unsur PKI dengan memelopori berdirinya Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI).Sebagaimana diceritakan oleh Taufik Ismail dalam pengantar buku kumpulan sajaknya “Tirani dan Benteng” menyatakan bahwa untuk mengganyak PKI maka dibentuk KAPPI hingga lengsernya rezim Soekarno digantikan oleh rezim Soeharto dengan otokratis orde barunya.
Demikian komplitnya,buku ini penting dibaca aktivis pergerakan seperti mahasiswa,LSM,atau lembaga-lembaga independen yang concern akan demokrasi dan HAM.Buku ini juga dapat dikatakan menjadi bacaaan wajib kader/ aktivis PII untuk menambah khazanah ke-PII-annya sehingga ghiroh semangat juang tetap terpatri dalam diri kader-kader PII.

Note : 
Tulisan ini saya buat sebagai salah satu persyaratan untuk Intermediate Training PII Sumut bulan Juni 2011. Pada bulan Januari tahun 2012, saat akan mengikuti Advance Training di Padang, tulisan ini sempat  diperbaiki sebagai persyaratan mengikutinya. Namun dalam beberapa hal sempat pula dikritisi oleh tim screening PW PII Sumut.
Tulisan ini saya temukan dalam arsip email yang sudah lama tidak terbuka dan sengaja saya posting di blog agar dapat menjadi pengingat akan masa-masa awal perjuangan dulu.

(Ansor Rasyidin Assaad)



Rabu, 09 Mei 2018

KHILAFAH ADALAH MIMPI



Khilafah adalah sistem pemerintahan yang wilayah kekuasaannya tidak terbatas pada satu negara, melainkan banyak negara di dunia yang berada di bawah satu kepemimpinan dengan dasar hukumnya adalah syariat Islam.

Bagi sebagian orang, memperjuangkan khilafah adalah sebuah utopia karena bagaimana mungkin bisa mempersatukan kaum muslimin dari berbagai belahan dunia yang telah terikat pada sistem nation state. Namun bagi sebagian lagi memperjuangkan khilafah adalah sebuah keniscayaan yang bersumber dari rasa keimanan yang kokoh.

Terlepas dari bagaimana sikap dan pandangan orang lain terhadap Khilafah, bagi saya Khilafah adalah mimpi.

Ya..!!!

Sebab mimpi berbeda dengan dongeng sebagaimana saya pernah menganggap bahwa syariat Islam yang menentramkan adalah dongeng. Dongeng yang hanya ada dalam kitab-kitab fikih yang kerap saya pelajari saat sekolah di MTs dan MA beberapa tahun silam. Dongeng yang tak lagi ada dalam kehidupan nyata. Atau dongeng tentang kejayaan peradaban Islam yang kami simak dari buku-buku sejarah ketika omongan Bu Nurul atau Bu Parsiati sang guru sejarah kami anggap sebagai dongeng pengantar tidur siang belaka.

Mimpi saya akan Khilafah juga berbeda dengan bunga tidur. Mimpi bermakna akan sebuah cita-cita yang layak diperjuangkan. Sebagaimana dulu motivator-motivator handal sekelas Ippho Santosa, Setia Furqon Kholid, Mario Teguh atau motivator lokal semacam Bang Umar yang kerap memberikan motivasi agar jangan malu untuk bermimpi sebab mimpi tersebut akan menjadi sebuah kekuatan besar bagi kita untuk memperjuangkannya. Atau juga motivasi novelis sekelas Andrea Hirata dalam bukunya yang fenomenal  yang berjudul "Sang Pemimpi" sampai-sampai penyanyi kondang semacam Giring Nidji pun ikut-ikutan menyanyikannya.

Jika mereka, para motivator tersebut memotivasi kita untuk bermimpi, lantas salahkah saya yang telah tersadar bahwa syariat Islam bukan dongeng mempunyai mimpi akan hidup sejahtera di bawah naungan Khilafah? Saya kira tidak. Sebab, siapa pun orangnya yang mempunyai dasar keimanan yang kokoh akan senantiasa berjuang mewujudkan mimpinya tersebut.

Maka sekali lagi saya sampaikan : KHILAFAH ADALAH MIMPI.
Bukan mimpi di siang bolong sebagaimana anggapan orang-orang apatis.
Atau DONGENG sebagaimana anggapan saya dulu.