UMAT ISLAM
DALAM KANCAH PERPOLITIKAN NEGARA (ORBA)
JUDUL BUKU :GERAKAN
PELAJAR ISLAM DI BAWAH BAYANG- BAYANG
NEGARA
PENULIS :Djayadi
Hanan
Penerbit :UII
PRESS Yogyakarta
TEBAL :xvi + 288 Halaman
Di Negara Indonesia yang bercorak plural ini, tidak
jarang kita jumpai kalangan etni-etnis masyarakat yang beragam. Mulai dari yang
berlatar agama,ras,suku,hingga perbedaan pandangan dan ideologi.
Hal ini pula yang terjadi pada etnis masyarakat
muslim.Umat muslim Indonesia,secara gamblang dapat kita bagi menjadi “golongan
hijau” dan “golongan kuning”.Golongan hijau
dapat kita artikan sebagai masyarakat muslim yang concern terhadap
ajaran-ajaran Islam.Sedangkan golongan
kuning adalah golongan masyarakat yang
beragama Islam ,tetapi phobia atau
anti terhadap ajaran Islam seperti sekuler,liberal,plural,kejawen,dsb.
Kita dapat melihat kilasan sejarah republik ini.Mulai dari masa pemerintahan
orde lama,orde baru,hingga masa reformasi sekarang.Banyak kebijakan pemerintah
yang terkadang bertentangan dengan ajaran islam dan aspirasi umat Islam.Sebagai
contoh adalah konsep yang ditawarkan rezim orde lama tentang Nasakom,pemberlakuan
UU No.85 tentang Keormasan pada rezim orde baru,serta perumusan RUU APP pada
mas reformasi.
Khusus pada mas orde baru,Djayadi Hanan,penulis buku
ini ,yang juga merupakan mantan ketua umum PB PII periode
1998-2000,menggambarkan secara gamblang tentang bagaimana reaksi umat
Islam,khususnya para aktivis PII terhadap UU keormasan tersebut.Bertolak dari
hal ini,yakni kasus penolakan Pelajar Islam Indonesia (PII) terhadap UU Nomor 8
Taun 1985 yang menyatakan setiap ormas harus berdasar Pancasila (Asas
Tunggal),penulis buku ini melukiskan gejolak pelajar Islam atas tekanan rezim
orde baru.Istimewanya,kasus tersebut dikaji dari sudut “orang dalam” sehingga
peta dinamika hubungan Islam dan negara orde baru terekam kuat dari kaca mata
politik gerakan pelajar Islam.Hal ini wajar.Karena di samping penulis adalah
mantan Ketua Umum PB PII periode 1998-2000.Beliau juga adalah mantan ketua umum
PW PII Sumatera Selatan yang juga menjadi satu Pengurus Wilayah PII yang tidak
setuju akan sikap PB PII untuk mereformalisasi
gerakan PII.
Meskipun begitu,penulisnya juga dapat mengetengahkan
kupasan objektif dari sudut orang luar.Hal ini dapat kita lihat dari sikap Menteri
Agama RI Tarmizi Taher pada saat menerima kunjungan delegasi PB PII pada
tanggal 11 Agustus 1995.Dalam
kesempatan itu,di samping
menyatakan bahwa Beliau akan membantu proses registrasi PII ke Departemen Dalam
Negeri,beliau juga mengingatkan agar PII tidak lagi “merasa pintar sendiri”
sehingga lebih pintar dari MUI.(Halaman 211 alinea ke-2)
Peringatan atau statement
Menteri Agama RI Tarmizi Taher ini bisa kita artikan bahwa pemerintah dan
juga komponen masyarakat yang menerima Pancasila sebagai Asas Tunggal mempunyai
penilaian yang miring terhadap sikap
PII yang menolak Pancasila sebagai Asas Tunggal.Kita mungkin dapat melihat
pernyataan Faisal Ismail dalam bukunya “Pijar-Pijar Islam Pergumulan Kultur dan
Struktur”.Dalam buku tersebut ia menyatakan “Dengan penolakan PII dan HMI-MPO
terhadap asas tunggal maka dapat disimpulkan bahawa hanya sebagian kecil saja
dari umat Islam Indonesia yang menolak Pancasila sebagai Asas Tunggal,sedangkan
umat Islam yang lain setuju.
Pembahasan ini menarik,sebab menggambarkan kontradiksi sikap umat Islam dalam menyesuaikan diri terhadap UU Keormasan.Misalnya dalam tubuh Nahdatul Ulama.Ormas ini setelah berdiskusi dengan presiden dapat dengan mudah menerima Pancasila sebagai asas tunggal.Berbeda dengan Muhammadiyah, Muhammadiyah sendiri baru menerima asas tunggal setelah melalui perdebatan yang cukup dinamis dalam Muktamar ke-41 (1985) di Surakarta. KH A.R Fachruddin, Ketua PP Muhammadiyah saat itu, mengibaratkan asas tunggal seperti "helm" bagi pengendara motor. Sedangkan PII,dengan tegas menyatakan menolak Pancasila sebagai Asas Tunggal.Konsekwensi logisnya,PII tidak diakui lagi oleh pemerintah dan harus bergerak secara informal atau bawah tanah karena setiap kegiatan yang tersangkut paut dengan PII dilarang.
Hal lain yang menarik dari buku “Gerakan Pelajar Islam Di Bawah Bayang-Bayang Negara” ini ialah bahwa buku ini tidak hanya mengupas mengenai gerakan informal PII saat menolak asas tunggal saja,tetapi meluas sampai tentang sejarah pergerakan PII dari masa ka masa.PII,sebagaimana menentang kebijakan pemerintah orde baru terhadap asas tunggal,ternyata juga turut berpartisipasi aktif dalam perjuangan mempertahankan republik ini dari berbagai ancaman baik dari dalam maupun dari luar.
Khusus terhadap ancaman dari dalam.PII turut serta
dalam perjuangan melawan tirani
pemerintahan rezim Soekarno yang pada
masa Demokrasi Terpimpin banyak disusupi
paham komunisme dan orang-orang PKI.PII,yang merupakan musuh bebuyutan PKI
sejak tahun 1948 berupaya untuk
membersihkan kabinet Dwikora dari unsur PKI dengan memelopori berdirinya
Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI).Sebagaimana diceritakan oleh
Taufik Ismail dalam pengantar buku kumpulan sajaknya “Tirani dan Benteng”
menyatakan bahwa untuk mengganyak PKI maka dibentuk KAPPI hingga lengsernya
rezim Soekarno digantikan oleh rezim Soeharto dengan otokratis orde barunya.
Demikian komplitnya,buku ini
penting dibaca aktivis pergerakan seperti mahasiswa,LSM,atau lembaga-lembaga
independen yang concern akan demokrasi
dan HAM.Buku ini juga dapat dikatakan menjadi bacaaan wajib kader/ aktivis PII untuk menambah khazanah
ke-PII-annya sehingga ghiroh semangat juang tetap terpatri dalam diri
kader-kader PII.
Note :
Tulisan ini saya buat sebagai salah satu persyaratan untuk Intermediate Training PII Sumut bulan Juni 2011. Pada bulan Januari tahun 2012, saat akan mengikuti Advance Training di Padang, tulisan ini sempat diperbaiki sebagai persyaratan mengikutinya. Namun dalam beberapa hal sempat pula dikritisi oleh tim screening PW PII Sumut.
Tulisan ini saya temukan dalam arsip email yang sudah lama tidak terbuka dan sengaja saya posting di blog agar dapat menjadi pengingat akan masa-masa awal perjuangan dulu.
(Ansor Rasyidin Assaad)

