Sabtu, 28 November 2015

HATI-HATI DALAM MEMPOSTING GAMBAR DIRI DI INTERNET

Kawan-kawan, jaman sekarang ini siapa sih gak kenal yang namanya internet. Dari pelosok-pelosok kampung sampek ke kota-kota besar. Semua orang kalo dibilang kata “internet” pasti semua udah pada tau. Apalagi bagi anak-anak muda yang selalu keranjingan dengan media sosial seperti facebook, twitter, dll.
Nah, biasa dalam ber-internet kita suka sekali memposting foto-foto diri kita. Entah itu foto kegiatan kita, poto pribadi yang selfie-selfie perasaan kayak ba(r)bie, atau yang lain lagi. Kalo foto-foto yang ditampilkan itu foto-foto kegiatan yang bermanfaat its oke lah, terkadang pun bisa juga dijadikan sebagai sarana dakwah. Atau bisa juga dijadikan sebagai pengenal diri kamoe supaya bisa akun kamoe dikenal ama kawan-kawan yang mungkin udah lama gak ketemu hingga akhirnya bisa dijadikan sebagai wadah silaturrahmi.
Tapi kalo kamoe menampilkan foto selfie apalagi fotonya itu sifatnya close up, maka hati-hatilah. Berikut akan saya paparkan sedikit tentang bahaya dalam memposting foto di internet.

Pertama, ini khusus untuk para wanita. Jika kalian mengunggah foto dengan pose atau pakaian yang seksi, kamoe bisa dicap buruk oleh pengguna facebook atau sosial media lainnya. Mereka akan menganggap kalian bukan lah wanita baik-baik. Tak hanya itu, sudah banyak yang menjadi korban penculikan dan pemerkosaan akibat memasang foto seksi di facebook. Tentu kalian sudah sering mendengar berita tersebut di televisi.

Yang kedua, memasang foto dengan wajah asli meski tanpa pose dan pakaian seksi berpotensi untuk disalah gunakan oleh orang lain. Mungkin kamoe para pecandu facebook dan sosial media lainnya sering menemukan akun-akun yang digunakan untuk berjualan secara online seperti jualan handphone dan benda-benda lainnya. Berhati-hati lah jika ingin membeli benda dari orang-orang tersebut karena bisa saja itu adalah modus penipuan. Yang lebih parahnya lagi, jika pelaku penipuan tersebut menggunakan foto anda dalam melakukan aksinya, bukan kah nantinya bisa jadi anda yang akan dicari oleh pihak kepolisian?

Yang ketiga, kamoe bisa saja menjadi korban pelecehan seksual dunia maya. Yang dimaksud adalah seperti yang telah menimpa beberapa orang yang biasanya terjadi pada artis. Wajah mereka diedit dan digabungkan dengan foto wanita yang sedikit fulgar. Walau pun pose dan pakaian anda tidak fulgar, namun dengan bantuan Photoshop dan beberapa perangkat lain, semua bisa berubah.
Yang keempat. Jika kamoe mengunggah sebuah foto dengan memamerkan harta seperti handphone baru, uang, sepeda motor, mobil dan lain-lain. Maka tingkatkan lah kewaspadaan dan bersiap-siap lah menanggung resikonya karena di luaran sana bisa saja ada penjahat yang sudah mengintai.

Dan ini khusus buat para AKHWAT yang (katanya) adalah para aktivis dakwah yang kan mempersiapkan generasi rabbani.

Di dunia nyata, dengan dalih “ghodul bashar” atau menjaga pandangan kita jarang berjumpa, kalopun berjumpa selalu menundukkan pandangan. Namun di dunia maya kamoe biarkan kami kaum adam untuk memperhatikan setiap lekuk keindahan wajah moe.

Kamoe berhijab pada dasarnya adalah untuk mengamalkan perintah Allah SWT untuk tidak tabarruj dan sufur. Tabarruj artinya seorang wanita menampakkan sebagian anggota tubuhnya atau perhiasannya di hadapan laki-laki asing. Sedangkan Sufur adalah seorang wanita menampak-nampakkan wajah di hadapan lelaki lain. Oleh karena itu Tabarruj lebih umum cakupannya daripada sufur, karena mencakup wajah dan anggota tubuh lainnya.

Trus, kalo kamoe sembarangan dalam memposting foto-foto moe di internet, di manakan esensi dari hijab sebagai al Haya’ (rasa malu).

Saran ku kepada kamoe para AKHWAT, JADI LAH kalian BARANG yg MAHAL, seperti "MUTIARA" bukankah mutiara itu mahal, DIJAGA & DIRAWAT, DISIMPAN BAIK-BAIK serta DIRAWAT, tidak ditaruh DI SEMBARANGAN TEMPAT, kecuali tempat yg benar-benar AMAN dan TERJAGA. Jangan menjadi BARANG MURAHAN..

Dan terakhir pesanku,
Karena Kamoe adalah salah satu penyebab lalainya kami dari perintah menjaga pandangan mata, maka WAHAI CANTIK ku mohon padamoe, bantulah aku DALAM MENJAGA PANDANGAN MATA KU
Wallahu a’lam

Diolah dari berbagai sumber

Minggu, 15 Juli 2012

KADER-KADER PII SIANTAR LAKSANAKAN PENYAMBUTAN RAMADHAN

       Dalam rangka menyambut bulan suci ramadhan 1433 H, Pengurus Cabang Perhimpunan Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (Perhimpunan KB PII) dan juga Pengurus Daerah Pelajar Islam Indonesia (PII) Kota Pematangsiantar melaksanakan  tausyiah akbar baru-baru ini. Acara ini bertempat di rumah Bapak Dja'far Nst di Jalan Silimakuta Kelurahan Timbang Galung Pematangsiantar dan dihadiri oleh PC Perhimpunan KB PII, PD PII, Demisioner PD, serta kader-kader PII Pematangsiantar.
       Selain menyambut bulan suci ramadhan, acara ini juga merupakan silaturrahmi rutin yang dilaksanakan oleh Pengurus Cabang Perhimpunan KB PII dan PD PII Pematangsiantar. Dalam sambutannya, tuan rumah yang juga merupakan mantan ketua umum PC PII Siantar tahun 1963-1967 ini menuturkan bahwa di lokasi rumah tersebut dulu merupakan sekretariat PII Siantar. Dan pada saat G30S/PKI sedang berlangsung, hampir keseluruhan kader PII  bersama dengan anggota KAPPI Siantar yang diketuai oleh Alm. Ridwan Siregar (kader PII) bersiap siaga di kolong rumah untuk menyambut serangan anggota PKI. Beliau juga menambahkan bahwa kader PII haruslah bisa amanah.
     Setelah itu, tausyiah ataupun kuliah ramadhan diisi oleh Bapak Hilman. Beliau mengatakan bahwa menjelang Ramadhan ini umat Islam haruslah siap baik secara mental maupun spiritual karen di bulan ini banyak godaan sehingga hati perlu dijaga secara kaffah.Beliau juga mengingatkan agar kita senantiasa berzikir karena berzikir dapat membersihkan hati. Selain itu, kader-kader PII haruslah bisa berjihad dengan cara memperkuat akidah dan memperbaiki adab. Ia menambahkan bahwa kader-kader PII haruslah beriman, beribadah, berilmu, dan beradab.
      Setelah itu acara ditutup dengan doa yang dibawakan oleh Bapak Ki Drs. Dardjat Purba. Setelah itu Sayapun selaku PW PII Sumut memberikan sedikit informasi seputar agenda PII secara regional di Sumatera Utara. Kemudian dilakukan pengumpulan dana untuk keberangkatan kader-kader PII Pematangsiantar untuk mengikuti Perkampungan Kerja Pelajar (PKP) di Tanjung Balai, Intermediate Training di Medan, serta Basic Training di Asahan.
     Namun terlepas dari semua kegiatan itu, kader-kader PII hendaklah bisa menjadi uswah dan pelopor kejayaan Islam sehingga semboyan Kyai yang intelek dan intelek yang kayai dapat tercapai.

Rabu, 11 April 2012

DOWNLOAD

Di bawah ini adalah daftar file yang dapat anda unduh atau download

tr>HaditsMemperkaya keilmuan Islam melalui Hadits<Download
Nama FileManfaatMendownload
Qur'an in WordPlug in Alqur'an di dalam Ms.WordDownload
TajwidTelaah kemampuan membaca Alqur'an kitaDownload

Kamis, 01 Maret 2012

MEWASPADAI VIRUS MERAH JAMBU

Bagi kita mungkin tak asing lagi dengan kata virus.Baik itu virus yang menyebabkan penyakit pada manusia,hewan,maupun tumbuhan; ataupun virus yang membuat komputer kita menjadi sakit lantaran virus tersebut.

Berangkat dari pemikiran bahwa virus sungguh merugikan manusia,maka saya mempunyai pemikiran tentang bahayanya virus merah jambu.

Sebelum kita berbicara jauh tentang virus merah jambu ini,marilah kita cermati hadits Nabi SAW berikut:

Sungguh di dalam tubuh manusia terdapat satu gumpal darah yang apabila baik segumpal darah itu maka baiklah seluruh tubuh.Ketahuilah,itulah hati.(HR.MUTTAFAQ ALAIH)

Dari hadits nabi di atas sudah jelas bahwa hatilah pusat segala kehidupan kita.Coba anda bayangkan apabila anda sedang jatuh cinta.Pastinya anda tidak bisa berkonsentrasi pada suatu pekerjaan,melainkan pikiran anda pecah dan selalu memikirkan si dia(pengalaman pribadi,he….he…he).Kalau sudah begitu pasti deh kerjaan kita bakal kacau.

Untuk mengatasinya pastinya sungguh repot.Jalan satu-satunya terhindar dari hal yang semacam itu ialah dengan menahan pandangan mata,seperti dalam sebuah syair IIbnu Qayyim Al-Jauziyah yang berbunyi:

Jika seorang pelajar ingin meraih kesempurnaan ilmu, hendaklah ia menjauhi kemaksiatan dan senantiasa menundukkan pandangannya dari hal-hal yang haram untuk dipandang karena yang demikian itu akan membukakan beberapa pintu ilmu, sehingga cahayanya akan menyinari hatinya. Jika hati telah bercahaya maka akan jelas baginya kebenaran. Sebaliknya, barangsiapa mengumbar pandangannya, maka akan keruhlah hatinya dan selanjutnya akan gelap dan tertutup baginya pintu ilmu.
(Ibnu Qayyim Al-Jauziyah).

Kita sering mendengar kaitan antara pandangan mata dengan hati.Antar lain yang sering kita dengar (hamper muak dengarnya)adalah ungkapan “dari mata turun ke hati)

Mata dan hati memiliki ikatan yang kuat. Para dokter akhlaq bertutur, “Antara mata dan hati ada kaitan eratnya. Bila mata telah rusak dan hancur, maka hati pun rusak dan hancur.

Lalu apa hubunganya dengan virus merah jambu???????????

Begini,apabila kita tidak bisa menahan pandangan mata kita,otomatis hati kita pun agak sedikit ser.Di saat hati kita mulai yaa gitu deh,maka virus merah jambu pun akan menyerbu kita.Kalau kita udah kena virus ganas ini,maka jangan harap deh sholatnya bisa khusuk kayak dulu.Wong waktu belum diserang aja payah kok khusuk,apalagi waktu udah terinfeksi.

So,jadi intinya di sini ialah menjaga pandangan mata karena mata udah ngeliat yang enggak-enggak,maka pasti deh hati kita juga bakal ser.

MANFAAT MENJAGA PANDANGAN MATA
[1]. Mendekatkan hati kepada Allah.
Melepaskan pandangan tanpa kontrol dapat merusak dan menjauhkan hati dari Allah, serta dapat memutuskan hubungan antara hamba dan Tuhan. Para pemerhati masalah jiwa mengemukakan bahwa antara mata dan hati ada satu celah dan jalan. Manakala mata rusak, maka hati pun rusak, dan menjadi tempat kotoran. Hati itu tak bisa lagi menjadi fasilitas untuk mengenal, mencintai, dan menuju Allah.

[2]. Memberikan pakaian penuh cahaya kepada hati.

Melepaskan pandangan secara bebas berarti membusanai hati dengan pakaian kegelapan. Karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan ayat an-Nur (cahaya) segera setelah memberikan perintah menjaga pandangan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
”Katakanlah kepada orang-orang mukmim untuk menjaga pandangan mata mereka dan menjaga kemaluan mereka”
(Al-Qur’an Al-Karim Surah An-Nur [24 ]: ayat 30)
Setelah itu, Allah menyebutkan hasil atau pengaruhnya,
“Allah adalah cahaya yang menerangi langit dan bumi. Cahaya-Nya itu bagaikan lubang, yang di dalamnya ada pelita … “
(Al-Qur’an Al-Karim Surah An-Nur [24]: ayat 35)
Yaitu, seperti cahaya Allah di dalam hati hamba-Nya yang mukmin yang menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Manakala hati mendapat nur, hati itu dapat menerima berbagai kebaikan dari segala sisi. Namun, ketika hati gelap, ia menerima seluruh musibah dan keburukan dari semua tempat.

[3]. Melahirkan firasat yang benar, yang dengannya seseorang bisa membedakan antara yang hak dan yang batil, antara yang jujur dan yang dusta.

Syuja’ al-Karmaniy mengatakan, ”Siapa yang mengisi lahiriahnya dengan mengkuti sunnah dan mengisi batinnya dengan senantiasa mawas diri, menjaga pandangan dari yang terlarang, menahan diri dari syubhat, dan makan yang halal, pasti firasatnya tidak pernah salah.” Syuja’ sendiri adalah orang yang firasatnya senantiasa benar.

[4]. Membuat hati berkonsentrasi dalam memikirkan hal-hal yang baik.
Mengumbar pandangan, akan membuat seseoarang akan lupa akan hal itu, karena ada pembatas antara dia dan hatinya. Jiwanya pecah dan ia jatuh ke dalam perangkap hawa nafsunya dan lalai mengingat Tuhan.
Ada kisah menarik mengenai menjaga pandangan ini. Karena sangat menjaga pandangannya, sebagian orang menduga bahwa Rabi’ bin Khutsaim buta. Selama dua puluh tahun, ia sering berkunjung ke rumah ibnu Mas’ud, ”Temanmu yang telah buta telah datang.” Ibnu Mas’ud tertawa karena ucapan itu. Ketika melihat Rabi’, Ibnu Mas’ud berkata, ”Alangkah gembiranya al-mukhbitiin (orang-orang yang merendahkan diri dihadapan Allah). Demi Allah, seandainya Muhammad Shallallahu ’alaihi wa Sallam melihatmu, pasti beliau senang.”
Mata yang selalu dijaga dari hal-hal yang diharamkan, tidak akan tersentuh oleh api neraka sebagaimana sabda Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam, “Tiga pasang mata tidak akan menyentuh api neraka, yaitu mata yang menutup dari apa yang diharamkan oleh Allah, mata yang terjaga di jalan Allah, dan mata yang menangis karena takut kepada Allah.” (Hadits Riwayat Imam Hakim dan Imam Baihaqy).
Balasan itu setimpal dengan amal. Barangsiapa yang menundukkan pandangannya dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah, niscaya Allah akan mencemerlangkan cahaya bashirahnya. Siapa yang meninggalkan sesuatu demi Allah, Allah akan menggantikannya dengan sesuatu yang lebih baik baginya. Apabila seseorang menjaga pandangan dari hal-hal yang haram, Allah akan menggantikannya dengan nur pandangan-Nya. Allah juga akan membukakan untuknya pintu pengetahuan, iman, makrifat, dan firasat yang benar.
Sebagai penutup, nasihat dari Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah untuk memohon pada Allah agar menghidupkan hati kita.
Sungguh aneh orang yang punya keperluan dan memohon agar Allah memenuhinya, namun ia tak memohon untuk menghidupkan hatinya agar tidak terjangkit kebodohan, agar disembuhkan dari penyakit syahwat dan syubhat; sebab jika hati telah mati maka ia tak akan merasakan kedurhakaan kepada Allah.
(Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah)

Jumat, 12 Februari 2010

ISLAM MENOLAK VALENTINE

Valentine” menjadi istilah yang akrab dan populer disebutkan untuk momentum 14 Februari. Momentum ini menyimpan nilai tersendiri bagi mereka yang merayakannya. Sehingga tak jarang 14 Februari diaktualisasikan sebagai sebuah perayaan khusus disetiap tahunnya. Dimulai dengan mengemas sebuah kado istimewa, melayangkan ucapan “happy Valentine”, hingga mengadakan perayaan besar bak sebuah resepsi pernikahan. Hal ini dinilai wajar untuk sebuah momentum yang “diistimewakan”.
Namun demikian, kewajaran perayaan Valentine menjadi polemik, bahkan mengundang perbincangan hangat, saat Islam turut ambil bagian untuk mengistimewakan perayaan ini. Valentine yang diyakini sebagai budaya yang lahir dari agama Kristen telah melibatkan sebahagian besar remaja Islam untuk merayakannya. Hal ini dinilai salah sehingga melahirkan klaim “haram” bagi umat Islam yang merayakannya.
Ironisnya, fatwa “haram” untuk perayaan Valentine bagi umat Islam, tidak malah menjadikan pemeluk Islam (khususnya remaja) meninggalkan budaya perayaan Valentine ini, akan tetapi sebaliknya, perayaan tersebut justru mendarah daging dan “membumi” dalam masyarakat Islam pada umumnya. Apakah dikarenakan doktrin tersebut merupakan sebuah “ijtihad” baru yang kurang memiliki kejelasan hukum sebagaimana persoalan kehidupan lainnya, jelasnya fatwa “haram” terhadap perayaan Valentine agaknya kurang memiliki “makna generik” yang pada akhirnya menjadikan fatwa tersebut kurang diindahkan.
Kesamaran Sejarah ValentineBerbeda dengan hari besar lain semisal 25 Desember sebagai hari natal, atau 12 Rabiul Awal yang merupakan hari kelahiran Muhammad SAW, 14 Februari sesungguhnya memiliki “kesamaran sejarah” sebagai sebuah hari besar. Kebanyakan orang menyebut hari ini sebagai hari “kasih sayang”, namun tidak ada landasan yang kongkrit dan argumentatif untuk menyanggah kebenarannya.Menurut Ensiklopedi Katolik (Catholic Encyclopaedia 1908), istilah Valentine yang disadur dari nama “Valentinus” paling tidak merujuk pada tiga martir atau santo (orang suci) yang berbeda, yaitu: seorang pastur di Roma, seorang uskup Interamna, dan seorang martir di Provinsi Romawi Africa. Koneksi antara tiga martir ini terhadap perayaan hari kasih sayang tidak memiliki catatan sejarah yang jelas. Bahkan Paus Gelasius II pada tahun 496 M menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada hal yang diketahui dari ketiga martir ini. 14 Februari dirayakan sebagai peringatan santa Valentinus sebagai upaya mengungguli hari raya Lupercalica (dewa kesuburan) yang dirayakan pada tanggal 15 Februari.
Berbeda dengan hari besar lain semisal 25 Desember sebagai hari natal, atau 12 Rabiul Awal yang merupakan hari kelahiran Muhammad SAW, 14 Februari sesungguhnya memiliki “kesamaran sejarah” sebagai sebuah hari besar. Kebanyakan orang menyebut hari ini sebagai hari “kasih sayang”, namun tidak ada landasan yang kongkrit dan argumentatif untuk menyanggah kebenarannya.Menurut Ensiklopedi Katolik (Catholic Encyclopaedia 1908), istilah Valentine yang disadur dari nama “Valentinus” paling tidak merujuk pada tiga martir atau santo (orang suci) yang berbeda, yaitu: seorang pastur di Roma, seorang uskup Interamna, dan seorang martir di Provinsi Romawi Africa. Koneksi antara tiga martir ini terhadap perayaan hari kasih sayang tidak memiliki catatan sejarah yang jelas. Bahkan Paus Gelasius II pada tahun 496 M menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada hal yang diketahui dari ketiga martir ini. 14 Februari dirayakan sebagai peringatan santa Valentinus sebagai upaya mengungguli hari raya Lupercalica (dewa kesuburan) yang dirayakan pada tanggal 15 Februari.Beberapa sumber menyebutkan bahwa jenazah santo Hyppolytus yang diidentifikasi sebagai jenazah santo Valentinus diletakkan kedalam sebuah peti emas dan dikirim ke gereja Whiterfiar Street Carmelite Churc di Dublin Irlandia oleh Paus Gregorius XVI pada tahun 1836. Sejak itu, banyak wisatawan yang berziarah ke gereja ini pada tanggal 14 Februari. Pada tanggal tersebut sebuah misa khusus diadakan dan dipersembahkan kepada para muda-mudi dan mereka yang sedang menjalin hubungan cinta.
Catatan pertama dikaitkannya hari besar santo dengan kasih sayang dimulai sejak abad ke-14 di Inggris dan Prrancis, dimana diyakini bahwa 14 Februari merupakan hari ketika burung mencari pasangan hidupnya. Keyakinan ini ditulis dalam karya sastrawan Inggris abad ke-14 bernama Geoffery Chaucer. Dalam karya tersebut dia menuliskan: “…for this was sent on seynt valentyne’s day,…when every foul cometh ther to chosehis matc (inilah yang dikirim pada hari santo Valentinus,…saat semua burung datang kesana untuk memilih pasangannya)”.
Sumber lain dari sebuah kartu Valentine abad ke-14 yang konon merupakan bagian dari koleksi pernaskahan British Library di London menceritakan beberapa legenda santo Valentinus, diantaranya mencatat bahwa: sore hari sebelum Valentinus gugur sebagai syuhada, ia menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang diberikan kepada sipir penjaranya bertuliskan “dari Valentinus”. Konon ketika itu serdadu Romawi dilarang menikah oleh Kaisar Claudius II, santo Valentinus secara rahasia membantu menikahkan mereka. Itu sebabnya pada zaman tersebut para pasangan yang tengah menjalin cinta lazim bertukar catatan dan memanggil pasangannya sebagai “Valentine”.
Aktualisasi Perayaan ValentineSekelumit catatan “sejarah samar” latar belakang perayaan Valentine yang dipaparkan diatas sesungguhnya masih belum cukup beralasan untuk mengaitkan 14 Februari dengan hari kasih sayang. Anehnya, sampai hari ini aktualisasi perayaan Valentine semakin tumbuh subur dan berkembang pesat seperti pertumbuhan jamur di musim hujan. Padahal, tanpa disadari perayaan ini telah dihapus dari kalender gereja sejak tahun 1969 sebagai sebuah upaya menghilangkan keyakinan terhadap santo-santa yang asal mula sejarahnya hanya sebatas legenda dan masih perlu dipertanyakan.
Sekelumit catatan “sejarah samar” latar belakang perayaan Valentine yang dipaparkan diatas sesungguhnya masih belum cukup beralasan untuk mengaitkan 14 Februari dengan hari kasih sayang. Anehnya, sampai hari ini aktualisasi perayaan Valentine semakin tumbuh subur dan berkembang pesat seperti pertumbuhan jamur di musim hujan. Padahal, tanpa disadari perayaan ini telah dihapus dari kalender gereja sejak tahun 1969 sebagai sebuah upaya menghilangkan keyakinan terhadap santo-santa yang asal mula sejarahnya hanya sebatas legenda dan masih perlu dipertanyakan.Aktualisasi perayaan Valentine yang semakin subur ini dapat dilihat dibeberapa wilayah dunia yang turut menyisihkan waktu untuk merayakannya. Seperti di Jepang, hari Valentine, berkat marketing besar-besaran, sebagai hari dimana para wanita memberikan pria yang mereka senangi permen coklat. Ini tidak dilakukan secara sukarela, melainkan sebagai sebuah kewajiban, khususnya bagi mereka yang bekerja di Kantor. Dengan sedikit penambahan ciri khas, Thaiwan juga mengaktualisasikan perayaan Valentine semacam ini.Di Prancis perayaan Valentine dimeriahkan dengan pesta kembang api, sementara di Australia para remaja biasa kumpul disepanjang jalan bersama teman-teman dan pasangan mereka untuk merayakan Valentine. Pada saat yang sama, Valentine dikecam oleh orang Melayu di Malaysia. Dan tanpa disadari pula, budaya bertukaran kado Valentine antara sepasang kekaasih pada tanggal 14 Februari mulai muncul di Indonesia.
Islam dan Argumentasi Penolakan Valentine.Dari berbagai macam warna dan bentuk aktualisasi perayaan Valentine diseluruh penjuru dunia, Islam justru hadir sebagai institusi yang menolak perayaan Valentine tersebut. Arab Saudi misalnya, sebagai wilayah yang dianggap kiblat muslim diseluruh dunia, telah mengharamkan Valentine bagi umat Islam karena dinilai sebagai perayaan kaum Kristen yang penuh kekufuran. Padahal dengan alasan yang tidak jelas, umat Islam di Indonesia (pada umumnya) sebagai negara pemeluk Islam terbanyak di dunia, telah menjadikan Valentine sebagai bahagian yang mesti dirayakan setiap tahunnya (khususnya bagi para remaja).
Dari berbagai macam warna dan bentuk aktualisasi perayaan Valentine diseluruh penjuru dunia, Islam justru hadir sebagai institusi yang menolak perayaan Valentine tersebut. Arab Saudi misalnya, sebagai wilayah yang dianggap kiblat muslim diseluruh dunia, telah mengharamkan Valentine bagi umat Islam karena dinilai sebagai perayaan kaum Kristen yang penuh kekufuran. Padahal dengan alasan yang tidak jelas, umat Islam di Indonesia (pada umumnya) sebagai negara pemeluk Islam terbanyak di dunia, telah menjadikan Valentine sebagai bahagian yang mesti dirayakan setiap tahunnya (khususnya bagi para remaja).Barangkali ada benarnya “falsafah konyol” yang menyebutkan “hukum dibuat untuk dilanggar”, sehingga dengan serta merta Valentine yang telah di klaim “haram” bagi pemeluk Islam begitu leluasa mengakrabkan diri . Agaknya syariat kurang berlaku dalam tataran ini. Atau justru syariat memang tak lebih dari seperangkat aturan yang terikat ruang dan waktu, serta terkungkung keadaan tertentu, sehingga perayaan Valentine boleh jadi “berganti wajah” dalam perspektif hukum Islam sesuai dengan keadaannya. Sebagaimana pembelaan pemikir rasional, bahwa tidak ada statement yang qathi (jelas) didalam al-Qur’an maupun hadits terhadap pelarangan perayaan Valentine, sekalipun itu budaya yang tidak lahir dari Islam itu sendiri.
Melihat kenyataan bahwa perayaan Valentine semakin subur ditengah masyarakat Islam (Indonesia khusunya), agaknya syariat memang perlu menghadirkan sebuah argumentasi baru yang lebih memiliki makna generik serta terlepas dari sikap eksklusif yang menekankan prinsip bahwa Valentine lahir dari ajaran Kristen. Dengan kata lain, sungguhpun tidak ditemukan literatur lain selain literatur Kristen yang mampu menghantarkan sejarah Valentine, dan hal ini menandakan bahwa Valentine tidak dapat dibantah sebagai budaya yang datang dari ajaran Kristen, tetap saja ada nilai eksklusif yang akan lahir jika Islam menolak perayaan tersebut dengan alasan ini.
Barangkali, alasan yang lebih rasional dan universal untuk menolak perayaan Valentine bagi umat Islam adalah dengan mengajukan pertanyaan: untuk apa Valentine dirayakan?; cukup beralasankah 14 Februari dideklarasikan sebagai hari kasih sayang?. Maka pertanyaan ini dengan sendirinya akan menghadirkan jawaban bahwa Valentine tidak lain diperingati untuk mengenang santo Valentinus yang hanya ada dalam kayakinan Kristen. Oleh karenanya, kurang tepat jika Valentine dirayakan umat Islam dengan alasan turut merayakan hari kasih sayang. Padahal, Kristen sendri sebagai institusi yang memulai propaganda perayaan tersebut, pernah menghapuskan penanggalan ini dari kalender gereja dengan alasan sejarah yang tidak jelas. Naif sekali jika umat Islam yang notabenenya “ikut-ilutan” justru menjadi vigur yang paling “getol” merayakan Valentine tersebut.
Penutup.Di Jepang Valentine dirayakan sebagai propaganda marketting secara besar-besaran. Orang Prancis dan Australia mungkin punya alasan sendiri untuk merayakan Valentine. Tapi yang sulit dimengerti adalah si “Fulan” penduduk asli Indonesia, dengan biaya yang cukup mahal turut mengemas kado istimewa untuk dipersembahkan kepada kekasihnya di tanggal 14 Februari. Apakah si “Fulan” juga punya alasan merayakan Valentine, atau justru menjadi korban ikut-ikutan?.
Di Jepang Valentine dirayakan sebagai propaganda marketting secara besar-besaran. Orang Prancis dan Australia mungkin punya alasan sendiri untuk merayakan Valentine. Tapi yang sulit dimengerti adalah si “Fulan” penduduk asli Indonesia, dengan biaya yang cukup mahal turut mengemas kado istimewa untuk dipersembahkan kepada kekasihnya di tanggal 14 Februari. Apakah si “Fulan” juga punya alasan merayakan Valentine, atau justru menjadi korban ikut-ikutan?.Tulisan sederhana ini kiranya dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca untuk lebih memahami makna perayaan 14 Februari sebagai hari Valentine. Mungkinkah perayaan tersebut akan semakin membudaya dalam lingkungan Islam akibat kebutaan sejarah, atau justru umat Islam akan semakin sadar bahwa mereka tidak punya alasan yang jelas untuk ikut merayakan Valentine?. Wallahu a’lam.*Penulis adalah kontributor pada komunitas penulis lepas di www.penulislepas.com, pembina Jaringan Intelektual Muda Islam Studi Center, dan mahasiswa prog. Komunikasi Penyiaran Islam Fak. Dakwah IAIN Sumatera Utara.